[Catatan Reporter Cilik] Gerak Gerik Menarik dalam Gulali Festival

Anindya M.A, 10 tahun, Bekasi

Teman-teman pasti sudah tahu tentang Gulali Festival yang sudah dimulai sejak tanggal 1 Oktober 2021 yang lalu. Melanjutkan keseruan di hari pertama, pada hari kedua lagi-lagi kita dapat melihat pertunjukan yang tidak kalah menarik. Setelah ada Usaginingen dan Teater Boneka Ayodi di sesi pertama, pada sesi kedua, kita dapat menikmati persembahan dari UlangAlik dan Institute Tingang Borneo Theater (ITBT).

“Pause”

“Pause” merupakan persembahan dari tim UlangAlik yang dibentuk oleh dua sahabat, yaitu Kak Ami yang hobi melipat dan mengeksplorasi kertas, serta Kak Eve yang suka menggambar. Meskipun keduanya terpisah secara jarak, Kak Ami yang tinggal di Bandung dan Kak Eve yang tinggal di Jakarta tetap semangat dalam pengerjaannya demi pertunjukan yang luar biasa.

Cerita yang dimainkan dengan penggunakan Paper Toy Puppet ini terinspirasi dari kisah nyata anak remaja yang memiliki hobi bermain games dan phobia laba-laba, yang tidak lain adalah anak dari Kak Ami sendiri.

image1633217882275.png

   Sumber : Tangkapan Layar Anindya

Setelah mendapatkan ide cerita, UlangAlik menggodok ide, mematangkan konsep serta meramunya sampai menjadi cerita yang pas untuk anak-anak. Tak hanya itu, UlangAlik juga terus mengeksplorasi bentuk, material, ekspresi, dan gerak tokoh pada cerita ini. Terkadang mereka meremas, menggunting, menempel kertas dan lainnya. Seru ya!

image1633217882375.png

   Sumber : Tangkapan Layar Anindya

Meskipun proses pembuatannya memakan waktu hampir satu bulan, namun sebenarnya proses syuting dilakukan dua hari saja. Menurut Kak Ami, sebagian besar waktu digunakan untuk proses persiapan dan finalisasi, misalnya untuk editing hasil rekaman yang membutuhkan waktu sekitar 1 minggu.

Tentunya UlangAlik tak melaju sendiri. Pembekalan dan dukungan penuh juga didapat dari Kak Aio (Ayo Dongeng Indonesia), Kak Ria (Papermoon Puppet Theater), Luanne Poh (The Artground) dan Sue Giles (Polygot Theater Australia). Sedangkan untuk latihannya, UlangAlik mengikuti workshop di Gulali Lab bersama komunitas kreatif lainnya dari seluruh penjuru Indonesia pada akhir Agustus yang lalu.

Inspirasi cerita yang diperoleh dari keadaan sekitar membuat “Pause” bisa diterima dengan mudah oleh anak-anak. Tak heran jika UlangAlik menjadi salah satu penampil terbaik dalam Gulali Festival yang akan dinantikan karya-karya berikutnya.

“Ow Ow Owa”

Tak kalah menarik dari “Pause”, karya buatan ITBT ini mengisahkan tentang salah satu primata yang ada di hutan Kalimantan yaitu Owa si kera. Kera dipilih menjadi tokoh utama untuk menunjukkan kekayaan fauna yang ada di hutan Kalimantan. “Ow Ow Owa” menceritakan tentang pengalaman Owa yang terpisah dari keluarganya saat kebakaran hutan.

Tokoh Owa sendiri diperankan oleh Kak Abdul yang merupakan sutradara dari pertunjukan ini. Sementara pemandangan hutan yang menjadi latar belakang serta tokoh-tokoh figuran lainnya ditampilkan dalam bentuk bayangan. Jadi komponen-komponen pendukung cerita yang berbentuk gambar tersebut diletakkan di lantai atau digantungkan pada bambu. Lalu ada tim yang bertugas mengarahkan cahaya senter di belakang gambar, sehingga muncul bayangan pada layar di depannya.

image1633217882405.png

   Sumber : Tangkapan Layar Anindya

Meskipun ditampilkan dalam format hitam putih, pemilihan cerita yang menarik dan pemanfaatan media yang kreatif membuat “Ow Ow Owa” sangat menarik untuk ditonton. Semoga kedepannya ITBT dapat mengangkat tema-tema serupa dan menghasilkan karya yang tidak kalah luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *