[Catatan Reporter Cilik] Mollo Menanam Air

Ursula, Bekasi

Percaya gak sih kalau manusia bisa menanam air? Nah, ini akan kita bahas di Festival Gulali. Sebelum jelasin tentang para seniman, kita kenalan dulu yuk sama Gulali Festivalnya. Gulali Festival adalah festival seni pertunjukan untuk anak yang diselenggarakan oleh Papermoon Puppet Theatre dan Ayo Dongeng Indonesia. Festival ini berlangsung salama 3 hari. Tanggal 1, 2, dan 3 oktober 2021. Festival ini diadakan secara virtual. 

Salah satu pertunjukan yang aku tonton kali ini adalah pertunjukan dari Lakoat Kujawas. Lakoat Kujawas adalah sebuah komunitas seni yang berada di desa Mollo, Nusa Tenggara Timur. Lakoat Kujawas kerja bersama satu kampung. Mayoritas anggotanya adalah ibu-ibu dan anak-anak.

Di Gulali Festival ini mereka menampilkan pertunjukan berjudul ‘’Mollo : Perempuan dari Gunung’’ yang bercerita tentang perjalanan sekumpulan orang umtuk mecari tempat yang baik untuk mereka tinggali. Mereka berjalan dari arah matahari terbit mengikuti bintang-bintang yang ada di langit. Namun, perjalanan itu ada tantangannya. Setiap bulan purnama yang jahat keluar mereka harus bersembunyi di antara pepohonan dan di dalam goa. Hal itu supaya mereka tidak terkena kutukan jahat. Jika mereka terkena sinar itu mereka akan menjadi batu. Di antara sekumpulan orang itu ada seorang gadis Bernama Bi Fatis.Suatu hari Bi Fatis berjalan ditengah padang rumput. Hari mulai gelap namun disana tidak banyak pepohonan maupun bebatuan. Akhirnya Bi Fatis terkena kutukan jahat itu dan menjadi batu selamanya. Orang orang percaya akan perjuangan Bi Fatis untuk medapatkan kehidupan yang baik.

Hari demi hari orang orang mulai kesusahan akibat kutukan itu. Akhirnya orang orang itu mengambil kesepakatan kepada bulan purnama. Sejak saat itu daerah sekitar batu Bi Fatis dinamai Mollo yang artinya perempuan dari gunung. Setelah itu Tahun demi tahun pun berlalu. Disekitar batu Bi Fatis mulai tumbuh pohon dan tanaman tanaman liar. Di antara orang orang Mollo ada seorang Nenek bernama Nenek Kunanan, perempuan yang bisa menanam air. Hah, menanam air ? emang bisa? Konon jika hubungan antara manusia dan alam baik maka tidak ada yang mustahil, begitu juga dengan menanam air. Proses menanam air dilakukan secara rahasia. Saat sedang proses penanaman air nenek ini tidak boleh bertemu siapapun. Bila bertemu seseorang maka ritualnya harus dimulai dari awal.

Bila ada pertanyaan, sebenarnya ritual ini masih ada atau tidak sih? Menurut kak Dicky Senda dan teman teman komunitas Lakoat Kujawas, ritual ini masih ada tapi cuma beberapa orang saja yang bisa. Ritual ini masih rahasia makanya banyak yang tidak tahu. Air yang ditanam akan mencari sumber mata air di sekitar desa mereka.

Hari demi hari berlalu, sedihnya sekarang banyak pohon pohon yang ditebang. Mata air berubah jadi air mata. Batu batu banyak yang ditambang, sumur banyak yang kering dan orang Mollo gagal panen. Di saat saat yang kacau itu ada seorang gadis Bernama Maria. Maria percaya bahawa Mollo bisa Kembali seperti semula lagi. Mereka mulai melakukan penanaman kembali di beberapa tempat. Dan, mulai mencari mata air. Setelah perjuangan yang panjang akhirnya mereka berhasil membuat desa itu makmur kembali sampai sekarang.

Keren kan, ceritanya? Di pertunjukan ini, ada kak Dicky Senda sebagai penulis cerita dan sutradara. Dan juga latar belakang yang indah adalah kain tenun dari hasil tangan ibu-ibu Mollo. 

Cerita ini mempunyai inti yang sama. Bahwa kita itu juga termasuk alam. Sebagai sesama alam kita tidak boleh saling menyakiti. Kita harus melestarikan budaya dan alam yang ada di sekitar kita. Orang orang Mollo hidup berdampingan dengan alam bahwa kulit adalah tanah, darah adalah air, tulang adalah batu, dan rambut adalah hutan. Bagaimana kalau salah satunya hilang, bagaimana bisa hidup?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *