[Catatan Reporter Cilik] Kertas Bercerita dan Nasib Owa

Sisco, 11 Tahun, Bekasi

2 Oktober 2021 adalah hari kedua Gulali Festival, sebuah festival seni anak dan keluarga pertama di Indonesia, dilaksanakan secara daring. Dibuka oleh tiga orang MC, yaitu Kak Rangga, Kak Pambo dan Kak Lia. 

Pertunjukan pertama di sesi kedua ini mempersembahkan pertunjukan teater boneka dari UlangAlik berjudul “Pause” yang  berdurasi selama lima belas menit, di mana boneka dan alat-alat lainya sebagian besar dibuat dari kertas. Mengapa kertas? Karena kertas adalah media yang sangat mudah didapat. UlangAlik ingin menunjukkan bahwa kita bisa tetap kreatif dan berkreasi dengan apapun yang ada di sekitar kita.

Diambil dari kisah nyata, pertunjukan ini diawali dengan seorang anak remaja yang sedang bermain konsol kesayangannya. Saat dia sedang bermain dengan asyik, tiba-tiba ibunya memanggil. Dan setelah kembali ke kamar dia melanjutkan bermain sampai lupa pada sekitarnya. Bahkan saat ada kecoak yang mendekati ia tidak sadar dan hanya menepis kecoak itu. Pada saat bermain game ia merasa ada sesuatu yang bergerak, melewati dirinya. Ia pun tersadar, langsung loncat dari kursinya dan melihat keliling ruangan. Tidak ada yang aneh di kamarnya. Ada apa ya? Jantungnya berdebar kencang, ia melihat ada “portal” saat ia masuk kedalamnya, terlihat seperti gua yang sangat gelap. Ia berlari dan setting panggung berubah menjadi glow in the dark yang menarik perhatian. Ada banyak mata yang selalu mengikuti, seperti monster. 

Setelah beberapa lama berjalan ia melihat “makhluk” itu memainkan konsol kesayangannya! Ia marah karena hanya dia yang boleh memainkannya, dengan pedang ditangannya ia berperang dengan makhluk itu, ia kalah, pedangnya patah! Remaja itu mengambil kipas tangan lalu melemparkannya pada makhluk tersebut. Ternyata sang anak masih berada di kamarnya, dan “makhluk” itu hanyalah laba-laba kecil yang berada di konsol sang anak, dan dia mencoba mengusirnya menggunakan kipas tangan. Cerita selesai dengan adegan buku ditutup.

Pertunjukan ini tidak ada dialog, hanya ada visual, mungkin penonton ada beberapa kali kurang mengerti, seperti sebenarnya binatang apa itu? Kecoak atau laba-laba? Namun begitu, pesan yang ingin disampaikan dapat  dimengerti dengan jelas. Janganlah asyik di duniamu sendiri, berhenti sejenak rasakan bumi ini berputar.

Kak Ami bersama boneka kertas dan panggungnya.

Sumber gambar: Tangkapan layar zoom Sisco-Reporter cilik Semesta Kumbo.

Ini adalah pengalaman pertama Ulang Alik membuat pertunjukan seni. Oh ya, seniman di balik pertunjukan ini ada Kak Rahmi biasa dipanggil Ami dan ada Kak Evelyn atau Eve. 

Nah, kalian masih ingat tidak adegan glow in the dark yang menarik perhatian? Ternyata itu hanya menggunakan sinar ultra violet (UV). Penampilan sebagus ini butuh berapa lama ya membuatnya? Untuk syutingnya memakan waktu dua hari, proses editing tujuh hari dan untuk menyiapkan propertinya memakan waktu empat belas hari, jadi keseluruhan produksi membutuhkan waktu dua puluh tiga hari saja.

Meski proses pembuatan  karya seni ini ada di dua tempat yang berbeda, yaitu Jakarta dan Bandung tapi itu bukan masalah besar.

Pertunjukan seni selanjutnya dipersembahkan oleh Institute Tingang Borneo Theater (ITBT). Pertunjukan ini berjudul Ow Ow Owa. Kali ini bukan hanya kertas sebagai media, tapi perpaduan antara wayang, pantomim dan teater. 

Dibuka dengan wayang yang menunjukan manusia membakar hutan. Terlihat ada api yang besar, yang tentu saja dapat membuat pencemaran lingkungan.

Adegan selanjutnya Kak Abdul memerankan Owa dengan gaya yang lucu, serta diiringi dengan lagu tentang Owa dan musik yang ceria yang dibuat sendiri oleh tim ITBT. Kak Abdul yang menjadi Owa menunjukan aktivitas Owa, seperti memanjat pohon dan menjelajah hutan.

Setelah beraktivitas, Owa merasa lapar, Owa memberi tahu penonton bagaimana caranya dia makan. Pertama dia pergi ke tengah hutan, di tengah hutan banyak buah yang masih tergantung di pohon, ada buah rambutan, dan ada pisang kesukaan Owa! Setelah makan Owa biasanya tidur bersama teman-temannya. Owa terbangun karena banyak asap dan kabut di sekitarnya, diiringi dengan musik lagi, Owa berusaha mencari teman-temannya karena ia di tinggal sendiri. Para satwa berteriak meminta tolong! Banyak warga yang mencoba membantu memadamkan apinya agar satwa-satwa selamat. Adegan terakhir Owa yang duduk sendiri bernyanyi memanggil keluarganya diiringi dengan musik sedih dan ditutup dengan ucapan terima kasih.

Kak Abdul memperagakan Owa.

Sumber gambar: Tangkapan layar zoom Sisco-Reporter cilik Semesta Kumbo.

Mungkin banyak dari kalian bertanya, apa itu Owa? Owa adalah gorilla dengan bulu punggung berwarna perak asal Indonesia yang terancam punah. Alasan ITBT memilih mengangkat hewan Owa karena ingin memperkenalkan bahwa di Kalimantan tidak hanya ada orang utan, tapi ada juga Owa yang juga terancam punah, yang harus kita lindungi. Sejak 2016, ITBT sering mengangkat isu-isu lingkungan, sama seperti pertunjukan di Gulali Festival, alasan ITBT mengangkat isu-isu lingkungan, karena menurut ITBT akan lebih menarik jika disampaikan dalam bentuk cerita dan kita bisa belajar bersama. 

Pertunjukan Ow Ow Owa berdurasi 30 menit, dan memakan waktu dua bulan untuk latihan. Dari pertunjukan ini kita bisa belajar bahwa melindungi hewan sama dengan melindungi hutan, melindungi hutan dapat menyelamatkan bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *