[Catatan Reporter Cilik] Magica Mamejika Yang Magic!

Farah – 11 Tahun – Bekasi

Hari pertama Gulali Festival berjalan seru banget! Sesi pertama dibuka oleh penampilan Sasikirana Koreo Lab & Dance Camp berjudul Mimpi-Mimpi Negeri Api, dilanjutkan oleh penampilan dua bersaudara Didik & Dian yang menampilkan cerita Anak Bawang dengan bawang-bawang asli. Unik-unik ya? Eits belum selesai di situ,di sesi kedua, Aniwayang Studio tampil dengan animasi wayang series mereka Desa Timun:Timun. Setelah mereka The Sasonos Family tampil membawakan lagu Piknik Ke Pantai Musik. Wii seru-seru. Dan pada sesi terakhir Majika Mamejika menampilkan seni wayang berjudul Descent into Hell.

Hii kok seram ya judulnya “Turun Ke Neraka”? Ternyata gak seseram itu kok teman-teman. Pertunjukan yang bercerita tentang penari akrobatik bernama Bejo yang meninggal dan turun ke neraka ini dikemas dengan segar oleh para senimannya. Menurutku pertunjukan ini cocok untuk anak 9 tahun ke atas. Karena, anak umur 9 tahun ke atas sudah belajar membedakan konsep dongeng atau legenda dengan konsep real life. Tapi juga dengan catatan tetap didampingi orang tua ya. Gitu sih menurutku teman-teman.

Untuk sutradara dan pemain boneka pertunjukan ini, adalah Kak Nanang Ananto Wicaksono. Ia telah lama menggeluti ilmu wayang dan tinggal di Jepang lebih dari 5 tahun. Lalu istrinya, Kak Yuri Nishida merupakan warga Jepang asli. Di pertunjukan ini ia bertugas sebagai penata musik. Pencerita atau naratornya adalah Kak Ilbong, asisten pemain boneka dan pemusik lainnya adalah Kak Hitomi Matsudo. Eits, ada satu kru lagi nih. Kak Chako Kondo juga merupakan pemusik dalam pertunjukan ini.


Photo by Farah – Source Zoom Meeting Gulali Festival

Nah kalo konsep pertunjukannya sendiri sih udah out of the box banget. Jadi cerita dari pertunjukan ini terinspirasi dari tradisi dongeng Jepang, Rakugo dengan judul aslinya Jigoku Bakkei. Sedangkan untuk tokohnya sendiri menggunakan wayang. Menarik banget kan perpaduan budayanya! Untuk membuat pertunjukan ini butuh proses yang tidak sebentar teman-teman. Kata Kak Yuri awal pembuatan project ini adalah di tahun 2019. “Saat itu belum ada naskah yang sudah jadi, kita coba-coba bereksperimen dulu dengan teman-teman. Gerakan yang lucu bagaimana, itu masih dicari-cari” ujarnya saat di sesi tanya jawab. Untuk mencari gerakan wayang yang bagus juga merupakan hal yang lumayan sulit. Karena Kak Nanang dan tim membuat wayang dengan cara tradisi yang gerakannya terbatas. Jadi prosesnya harus berlapis agar sesuai harapan.

Bisa dilihat persiapan mereka matang banget!

Dan yang mengejutkan adalah, semua lagu yang dinyanyikan di pertunjukan ini dibawakan live semua! Luar biasa banget. Banyak yang mengira suara para pemusik adalah rekaman. Wah benar-benar totalitas.

Lalu untuk alat musik yang digunakan, tak hanya menggunakan alat musik biasa. Bahkan mainan pun juga digunakan.Mulai dari gamelan, pipa, mainan ayam yang bisa berbunyi, botol, barang-barang sehari-hari juga digunakan. Wii keren! Wah ternyata barang-barang yang biasa kita lihat, yang biasanya hanya buat main saja ternyata bisa jadi alat musik. Teman teman ada yang pernah coba kah? Seru gak? Harusnya seru dong ya.

Wii hari pertama aja udah seru nihh, gimana kalo hari kedua dan ketiga? Pasti makin seru ya. Sampai ketemu di 2 hari berikutnya teman!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *