Semua Elemen yang Muncul di Panggung Harus Punya Alasan

Tim Papermoon Puppet Theater versi tim lengkap menjadi fasilitator di kelas intensif hari keempat. Perbincangan di kelas jadi makin seru, nih!

Papermoon Puppet Theater adalah pertunjukan teater boneka yang didirikan oleh Mbak Ria dan Mas Iwan Effendi (suaminya) pada tahun 2006. Basisnya ada di Yogyakarta.

Papermoon membuat pertunjukan, proyek seni visual, dan memfasilitasi lokakarya dengan berbagai usia audiens, dan juga memprakarsai Festival Wayang Dua Tahunan Internasional yang disebut PESTA BONEKA sejak 2008.
Festival mandiri yang diadakan di Yogyakarta ini merupakan salah satu festival yang mengutamakan bagaimana masyarakat bisa bertemu dan berbagi melalui media wayang. Rangkaian pertunjukan, lokakarya, diskusi, presentasi juga sesi memasak di Pesta Boneka memungkinkan para seniman dan penonton merasakan suasana dan juga orang-orangnya. 

Selain mengadakan kegiatan dan mempertemukan banyak ragam orang di kotanya sendiri, tim Papermoon juga sudah seringkali melakukan perjalanan untuk bertemu banyak orang di berbagai negara seperti Amerika Serikat – Belanda, Jepang, India, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Australia,, Inggris, Skotlandia, Jerman, Myanmar, Pakistan, Taiwan, Filipina, dan Thailand. 

Pada saat menyampaikan pemaparan awal dan bercerita tentang perjalanan Papermoon dari awal sampai sekarang, Mbak Ria Papermoon mengatakan satu hal yang menarik. Di Papermoon Puppet Theatre, penggunaan media yang beragam dan elemen lainnya selalu harus punya alasan. Mengapa pakai teknik bayangan, mengapa ukuran boneka yang dipakai adalah yang kecil atau yang sedang atau bahkan besar sekali dan seterusnya. 

Mas Iwan juga menambahkan bahwa ada 5 pilar yang menjadi bagian penting juga di Papermoon, yaitu personal, personal, personal, personal dan personal 🙂 Menurut mas Iwan, semakin personal awal sebuah karya dibangun, maka karya itu akan semakin kuat. 

Menyenangkan menyimak cerita, tips dan trik dari tim Papermoon Puppet di kelas intensif kali ini. Teman-teman peserta juga banyak yang mengulik berbagai hal terkait teknis, seperti bagaimana treatment sinopsis bila pertunjukannya tanpa narasi verbal, bagaimana mengembangkan cerita dan kemudian menyelaraskannya dengan kemampuan gerak boneka, bagaimana membuat benda mati seperti boneka yang dibuat dari bahan-bahan keras bisa menampilkan emosi-emosi tertentu, dan lain-lain. 

Seru obrolan yang tercipta di kelas, sampai hampir lupa waktu! 

Sebelum kelas ditutup, Tim GULALl Lab juga tidak lupa mengingatkan bahwa di kelas intensif berikutnya kita akan bertemu dengan Sue Giles, yang tidak hanya akan memberikan materi tetapi juga akan mengajak semua peserta terlibat dalam sebuah kegiatan workshop kecil. Maka, para peserta diminta untuk menyiapkan alat tulis/alat gambar dan kertas secukupnya. Hmm, keseruan apa lagi ya kira-kira yang akan ada di kelas intensif berikutnya? 

Tunggu kabarnya lagi ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *