“Suntikan Vitamin” Materi dari Fasilitator Bikin Semangat Peserta Bertambah

Ini hasil mengintip obrolan di grup whatsapp setelah kelas intensif hari kedua berlangsung: 

[6:29 PM, 8/17/2021] GULALI LAB – Kahanane Project: Mantap deh yang tadi 👍

[6:41 PM, 8/17/2021] Ria Papermoon: Terima kasih ya teman-teman..

[6:41 PM, 8/17/2021] Ria Papermoon: Ingaaat ini baru pertemuan keduaa! Vitaminnya akan diberikan bertahap. Ehehehe

[6:42 PM, 8/17/2021] GULALI LAB – SEKAT Studio: Terima kasiiiiiiiiiiih~

Semoga imun kita semua bertambah! 🌻🌻🌻

[6:53 PM, 8/17/2021] Ria Papermoon: Amiin imuun

[6:56 PM, 8/17/2021] +62: Trima ksih Untuk hari Ini😁

[6:59 PM, 8/17/2021] +62: Suntikan Vitaminnya menambah semangat team Lakoat.Kujawas.🤗👍

[7:04 PM, 8/17/2021] +62: Agak lebih ke vaksin kayaknya ya, ada efek samping pusing2 gimana gitu hehehehe 😂

Ahaha, seru sekali teman-teman peserta GULALI Lab ini. 

Jadi, di kelas intensif hari kedua tanggal 17 Agustus 2021 kemarin, fasilitatornya adalah Kak Ariyo Zidni atau Kak Aio yang membawakan materi pemantik diskusi tentang Penonton Anak. Peserta diajak untuk menyelami kembali tentang bagaimana anak sebagai audiens.

Kak Ariyo Zidni atau yang biasa dikenal dengan sebutan Kak aio, dia adalah seorang pendongeng, penulis cerita anak, dan pengajar dongeng. Mendongeng sejak 1999, dan kemudian Bersama teman-temannya mendirikan Komunitas Ayo Dongeng Indonesia hingga menghadirkan Festival Dongeng Internasional Indonesia yang rutin diadakan setiap tahunnya. Menulis buku anak Kanchil: kisah sebenarnya, dan bisa mementaskan pentujukkan kecil tentang si Kanchil itu di Malaysia, sebuah pertunjukkan kombinasi teater dan dongeng untuk anak dan keluarga. Salah satu pendiri dari Federasi Pendongeng Asia ini (FEAST) selalu merasa bahwa, baginya dongeng adalah “passion to pass on”.

Banyak hal yang menarik disampaikan Kak Aio di kelas kali ini. Beberapa hal diantaranya adalah

  • Saat kita membuat pertunjukan untuk anak, jangan sampai terjebak membuat cerita yang berubah menjadi ceramah, anak akan membangun temboknya kalau diceramahi, dan bila ini terjadi, ceritanya menjadi tidak menarik lagi untuk anak-anak
  • Bila ingin membuat karya untuk anak, sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang anak-anak. Anak-anak informasinya masih terbatas, pengalaman rasa, visual, pengetahuan yang dia miliki belum sebanyak orang dewasa. Saat ingin membuat karya untuk anak, hal-hal ini perlu dipertimbangkan. 

Selain itu, beberapa hal lain terkait interaksi, membangun koneksi yang kuat dengan penonton anak, bagaimana menciptakan pengalaman bersama, kenalan dengan audiens anak, tentang tema yang dihadirkan, bagaimana membuat ending cerita, dan lain-lain terkait audiens anak juga dibahas Kak Aio di kelas kali ini. 

Mbak Ria juga menambahkan beberapa hal terkait pertunjukan ramah anak dan mengingatkan semua tim peserta untuk menjadikan anak-anak sebagai subjek bukan objek. Ada hal menarik juga yang disampaikan Mbak Ria berdasarkan pengalamannya membuat pertunjukan untuk anak bersama Papermoon Puppet. Mbak Ria mengatakan bahwa pertunjukan yang ia anggap berhasil adalah kalau sampai di rumah/setelah melihat pertunjukan itu, anak-anak masih mengingat cerita atau ingin melakukannya lagi apa yang sebelumnya ia saksikan dalam pertunjukan. 

Diskusi yang kemudian berjalan setelah Kak Aio memaparkan materinya juga sangat menarik. Teman-teman peserta menanyakan beberapa tips dan trik agar bisa mengemas materi pertunjukannya bisa dinikmati dan diterima oleh anak-anak. Banyak peserta yang setuju juga bahwa salah satu tantangan terbesar adalah mengolah, mengemas, treatment bercerita yang kemudian bisa berhasil diterima oleh penonton anak. 

Semangat ya, teman-teman peserta! Masih akan ada beberapa “suntikan vitamin” lainnya yang bisa kita dapatkan dari kelas-kelas intensif GULALI Lab. 

Sampai bertemu di kabar selanjutnya 🙂 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *