Tidak Melulu Ide Awal Sebuah Karya Muncul dalam Bentuk Cerita

Titik awal kemunculan sebuah karya atau inspirasi hadirnya sebuah karya bisa muncul dari mana saja. Tidak harus dari cerita, tetapi juga bisa dari sebuah konsep atau material yang dipakai, begitu kata Luanne Poh, Direktur The Artground, Singapura yang menjadi fasilitator di kelas intensif hari ketiga, 18 Agustus 2021. 

Luanne Poh, sudah terlibat dalam pembuatan drama dan menghasilkan karya untuk anak-anak sejak tahun 1999. Dia tertarik membuat ruang untuk para audiens muda bisa merasakan pengalaman seni yang beragam. Karena itulah dia mempelopori pembuatan The Artground, pusat seni khusus untuk anak-anak di Singapura yang dikembangkan bersama Pusat Kebudayaan Singapura (National Arts Council of Singapore). 

Apa yang disampaikan Luanne seperti tertulis di judul kabar hari ini semakin memberikan jawaban dari pertanyaan yang disampaikan di kelas intensif hari kedua lalu. Teman-teman Lakoat.Kujawas menanyakan, bagaimana supaya karya kami bisa diterima, bukan menjadi sesuatu yang asing dan berjarak, sementara mungkin cerita kami masih jadi sesuatu yang asing dan jauh dari penonton? 

Selain pertanyaan dari teman-teman dari tim Lakoat Kujawas, di kelas intensif kali ini banyak juga pertanyaan teman-teman dari tim lain yang akhirnya menemukan jawabannya. Luanne memberikan banyak pencerahan bagaimana memproduksi seni pertunjukan untuk anak-anak. Bahkan dalam penjelasannya, detail sekali Luanne menjelaskan apa saja yang ia dan The Artground lakukan untuk penonton dalam rentang usia yang berbeda. Bagaimana pertunjukan untuk bayi dilakukan, untuk anak yang sudah lebih besar, dan seterusnya. 

Luanne juga berbagi cerita bahwa seringkali di The Artground, para seniman mendapatkan ide dari hal yang sederhana kemudian mereka mengolahnya untuk bisa menjadi cerita yang menarik. 

Salah satu hal penting yang seniman perlu bayangkan, menurut Luanne adalah apa yang anak-anak lihat. Sudut pandang anak-anak penting. Setinggi apa, sejauh apa, baik secara fisik maupun mindset. 

Selain itu, dalam persiapan/saat mengundang penonton, perlu juga mengelola ekspektasi orang tuanya. Kita perlu memberi informasi apakah nanti dalam pertunjukan kita akan ada hal-hal yang sensitif untuk anak (gelap, tekstur tertentu, dan hal lainnya) atau akan ada sesi di mana anak akan punya kemungkinan kena percikan air, cat atau lainnya. Sehingga orang tua juga bisa bersiap-siap untuk segala kemungkinannya. 

Mendengarkan audiens dan uji coba ke penonton dalam grup-grup kecil sebelum dipertunjukkan secara luas kepada penonton yang lebih banyak lagi, juga menjadi salah satu hal yang selalu dilakukan oleh Luanne dan timnya. 

Sebagai penutup, Luanne mengatakan bahwa di dunia ini ada beragam selera makanan. Ada yang suka makanan pizza, ada yang suka ayam, ada yang suka merek ini, ada yang suka merek itu dan lainnya. Tugas kita adalah memberi berbagai alternatif untuk bisa mereka lirik dan siapa tahu menjadi selera mereka juga. 

Makin seru nih perjalanan teman-teman peserta GULALI Lab. Besok mari kita lihat, keseruan apa lagi yang ada di kelas. Tunggu kabar berikutnya, ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *